follow button

Minggu, 27 Mei 2018

Pembangunan Keluarga menangkal paham radikalisme (belajar dari kasus teror surabaya)

Halo aku mutia
aku lahir di surabaya & tinggal di surabaya sampai usia 22 tahun.
so call me Arek Suroboyo

Beberapa waktu lalu tepat nya hari Minggu tanggal 13 Mei 2018
Surabaya ku menangis
di saat kami semua repot & sangat antusias menyambut hari ulang tahun kota kami tercinta
3 bom bunuh diri meledak dalam 1 hari dengan waktu yang hampir sama
dan pelaku nya adalah 1 keluarga (pasutri, 2 anak perempuan, 2 anak laki-laki)

yang membuat aku sangat sedih bukan lah beberapa festival surabaya yang akhirnya di batalkan
tapi
teroris teroris ini melakukan aksi nya di 3 gereja
dan mereka mem branding diri sebagai "Umat Islam"
bisa di bayangkan apa dampak nya?
- menjadikan kita sesama anak bangsa saling curiga
- muslim dan non muslim luntur persaudaraan
yah itulah yang di inginkan para teroris.
padahal, tidak ada agama apapun yang menghalal kan teror.
teroris hanya memakai topeng agama untuk memfitnah dan melakukan kejahatan.


1 hari kemudian
aku menemukan sebuah postingan facebook
yang ternyata penulis nya adalah teman sebaya pelaku bom teror (jika ingin membaca. aku sudah posting di postingan sebelum ini)
yahh. Dita Supriyanto (ayah dari keluarga teroris) merupakan alumni SMAN 5 Surabaya.
salah satu SMA unggulan di surabaya, yang bukan sembarang anak bisa menempuh pendidikan disana
kalo tidak keluarga nya kaya, ya pasti siswa nya pintar
aku tau, karna kebetulan SMAN 5 bersebelahan dengan SMA ku

dalam status facebook nya tersebut penulis mengatakan bahwa Dita sudah memiliki benih ekstrimisme sejak di bangku SMA.
seperti contoh :
tidak mau hormat ke bendera merah putih karna menganggap itu syirik
pada saat itu pihak sekolah Dita tidak terlalu menganggap serius hal tersebut
tapi siapa sangka "beda pemikiran" seperti itu, bisa berujung meledakan diri bersama keluarga sebagai puncak 'jihad' ??

Dari hal ini kita bisa menyimpulkan
bahwa proses seorang manusia akhirnya bisa dengan bulat menganggap Terorisme sebagai hal yang benar ,
tidak terjadi dalam 1 malam saja.
tapi dari bertahun2 lalu dia sudah pelan pelan memasukan paham yang salah tersebut dalam dirinya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Mengutip dari thread BKKBN
Langkah paling efektif adalah dimulai dari keluarga.
Keluarga merupakan unit terkecil yang memiliki peran utama dalam menghindarkan generasi muda dari berbagai paham serta karakter negatif, seperti menangkal potensi penyebaran paham radikal.

aku ingat dulu di Sekolah Dasar aku pernah punya guru agama yang memberi pemahan kepada muridnya , bahwa : agama paling baik adalah agama Islam, umat penganut agama lain akan masuk neraka, Tuhan hanya satu yaitu Allah SWT (tidak dengan sebutan lain).
Untungnya aku punya ibu yang pandai mengubah bahasan berat kedalam kalimat ringan yang mudah di telan anak Sekolah Dasar.
Ibuku bilang : semua nya sama-sama mau ke Bali (tempat yang indah) , tapi jalurnya berbeda, ada yang pakai bis, ada yang naik pesawat, ada juga yang pakai kereta. tapi semua tujuan nya sama dik, ke tempat yang indah..
Ternyata ilustrasi ringan seperti itu bisa merubah pola pikir salah menjadi benar,
aku tidak membayangkan jika ibuku tidak meluruskan ajaran agama dari guru SD ku, mungkin aku bisa saja tidak punya sikap toleran terhadap agama lain, atau ekstrim nya aku mulai menelan paham radikal di usia dewasa. Hihhh seremm

Peran keluarga dalam membentuk kepribadian dari waktu ke waktu merupakan bentuk Pembangunan Keluarga.
Mari kita jadikan keluarga tersangka teroris surabaya ini sebagai pelajaran,
supaya para orang tua  menyadari masalah serius ini dan mencari jalan dalam setiap kendala yang ada untuk memastikan kelancaran dan kedekatan komunikasi antar orangtua dan anak.
Orang tua pun perlu membekali diri dengan pengetahuan agama yang cukup bagi anak-anaknya, baik dengan secara langsung mengambil peran pendidikan tersebut, atau mencarikan jalan lain.
Kalau pun harus menyerahkan peran ini ke sekolah, pastikan bahwa kita memilih sekolah yang tepat, lalu berupaya sebisanya untuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah untuk memastikan bahwa materi pelajaran agama diberikan dengan benar.
Pengawasan yang memadai atas pergaulan anak, khususnya dalam kelompok-kelompok keagamaan menjadi sangat krusial.

Semoga kita semua & keluarga kita terhindar dari paham radikalisme.
Tujuannya supaya tercipta Indonesia yang damai. Sebab perbedaan itu indah. Kita sebagai penerus bangsa harus lebih menjaga persatuan dan kesatuan.